Dec
16
By: Sri Hartati Yuliani

Kelas 3 lebih mudah dari kelas 2…..kata2 itu mulanya adalah ejekan Shania pada adiknya Angela. Alasannya sederhana karena nilai2 ulangan Angela di kelas 3 jauh-jauh lebih baik daripada sewaktu dikelas 2 semester 2. Aku selalu hanya bisa tersenyum mendengar ejekan yang kemudian berubah menjadi kata2 penyemangat pada saat anak2ku sedang putus asa karena pelajaran yang sulit mereka pahami.

Saat kelas dua terutama semester dua nilai2 ulangan Angel turun secara significan. Lumayan sering Angel mengikuti remedi. Bahkan guru Mandarinnya bilang supaya Angel ikut les untuk menaikkan nilai2nya. Saat itu aku marah. Ini guru tidak bertanggungjawab. Dia yang harusnya membimbing anakku mencapai ketuntasan kok malah nyuruh anakku les. Aku masih memegang prinsip untuk tidak mengikutkan anak2ku les untuk pelajaran sehari2. Tujuanku saat mereka SD adalah “menanamkan senangnya belajar”. Jadi nilai bukan tujuan akhir.

Tapi saat mengetahui Angel yang saat kelas 1 meraih rangking 4, dan saat kelas 2 semester 1 terjun bebas menjadi rangking dibawah, aku cemas juga. Untung saat itu si Dosgil mengingatkanku. Bukan rangking yang harus kuperhatikan tapi nilai mutlak yang dilihat. Aku jadi ingat akan tujuanku semula.

Kemudian petualangan dimulai. Aku meminta kakaknya Shania untuk mendampingi Angel belajar bahasa Mandarin kalau mau ulangan. Saat mengerjakan PR juga Shania mendampingi. Dan perubahan dengan cepat terjadi. Nilai2 bahasa Mandarin meningkat dengan pesat. Ternyata kemudian mereka menerapkannya pada hampir semua matapelajaran, nilai2 Angel menjadi bagus dan tidak pernah lagi remedi. Walaupun saat penerimaan raport nilai2 itu tidak terlalu membantu karena itu terjadi setelah UTS semester dua, tetapi kemudian itu menjadi pola.

Saat kelas 3, Angel kemudian menemukan rahasia “"sukses” dia. Belajar didampingi kakak Shania dengan hati gembira. Dan ternyata memang Angel membuktikan bahwa dia sudah menemukan cara belajar yang cocok dengannya. Nilai2nya bagus, hampir selalu diatas 90 untuk ulangan apapun. Tidak sekalipun remedi disemester ini. Kakaknya senang karena berhasil mendampingi. Aku juga senang karena anak2ku bisa menemukan kesenang belajar.

Mereka belajar tanpa paksaan. Mereka belajar karena memang ingin belajar. Walaupun gak ada PR mereka senang berdiskusi tentang pelajaran. Setiap hari mereka saling bercerita apa yang diajarkan guru pada mereka. Mereka bangga walaupun tidak ikut les seperti teman2nya mereka mampu meraih nilai seperti teman2 yang les. Bahkan itu menjadi tantangan bagi mereka untuk menjadi lebih baik dari teman2 yang ikut les.

Ayo nak…nanti kelas 4 juga akan lebih mudah dari kelas 3.



Sep
25
By: Sri Hartati Yuliani

Saat itu reuni SMA, 20 tahun sudah kami lulus SMA

Ada seorang teman yang bertanya kepadaku:

“Masa sih selama ini gak ada yang mau sama kamu, kok masih sama yang itu terus sih”

Agak tertegun juga mendapat pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang sangat reflektif. Kemudian aku menjadi bertanya-tanya, iya ya kenapa sejak pacaran di SMA dulu sampai akhirnya menikah kami tidak terpisahkan.

Aku jadi mengingat-ingat lagi kejadian masa lampau dan berusaha merefleksikannya.

Dulu mulanya aku dan dia bersahabat, kami bisa bercerita apa yang kami alami hari itu. Dan hal itu terus berlanjut sampai kami pacaran. Cerita apa saja tanpa harus ada yang ditutup2i, walaupu kadang agak menyakitkan tapi tetap saja cerita apa adanya. Dan sekarang…..Puji Tuhan masih saja tidak ada rahasia diantara kami.

Dia bisa menerima aku apa adanya, tidak pernah menuntut aku berubah sesuai keinginannya. Kami bisa saling mengisi, seperti kunci dan gembok. Dua pribadi yang berbeda tetapi saling mengisi untuk bisa berfungsi.

Selalu ada saat aku membutuhkan bahunya untuk bersandar. Tidak menasehati dengan banyak kata2, cukup menyediakan bahu untuk bersandar, mendengar semua keluh kesahku. Menyediakan jalan keluar yang kubutuhkan saat aku sudah putus asa.

Memberi ruang pribadi bagiku. Dari dulupun dia selalu memberikan ruang pribadi, sesuatu yang tidak pernah dicampurinya. Tidak pernah memasukinya tetapi dengan antusias mendengar cerita2 yang ada didalamnya.

Mencintaiku tanpa menuntut balas. Seringkali bahkan mengorbankan kepentingannya untuk diriku. Bahkan kelemahankupun tidak membuatnya berduka.

Apalagi yang aku cari jika semua sudah ada didalam dirinya. Walaupun ada beberapa yang dekat denganku, tidak pernah ada yang seperti dirinya.

Jadi kenapa kok masih sama yang itu terus? Karena dia sempurna bagiku.



Nov
08
By: Sri Hartati Yuliani

Sejak 26 Oktober 2010 kemaren, gunung Merapi beraktifitas cukup tinggi. Sampai pada letusan terbesarnya yang membuat hujan abu cukup intens di Jogja pada 5 November 2010. Sekolah2 di Jogjakarta diliburkan karena kondisi yang tidak kondusif dan mencemaskan. Anak2kupun tidak masuk sekolah karena kondisi sekolah yang penuh abu vulkanik.

» Read the rest of this entry



Mar
05
By: Sri Hartati Yuliani

Shania sebentar lagi lulus SD, yang artinya sebentar lagi dia harus menghadapi UAN, ujian yang sangat penting yang akan menentukan kelulusannya. Mulai pertengahan semester 1 kemaren sudah mengikuti bimbingan belajar walau tidak khusus untuk UAN. Ada 3 matapelajaran yang akan ditempuh dalam UAN dan yang paling menakutkan adalah matematika.

» Read the rest of this entry



Feb
26
By: Sri Hartati Yuliani

Barusan nonton film Facing the Giant….sebuah film yang sungguh menginspirasi. Kita bisa banyak belajar dari film tersebut. Nilai-nilai yang disampaikan sungguh indah untuk kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

» Read the rest of this entry