May
15

Bulan November 2008 lalu, ayahku operasi colon….15 cm colon yang rusak dipotong. Keputusan itu mendadak dan mengagetkan tetapi syukurlah semua boleh berjalan dengan lancar. Ternyata itu bukan merupakan akhir yang membahagiakan setidaknya untuk saat itu. Dua minggu kemudian kami mendapatkan hasil lab yang menyatakan usus yang dipotong tersebut menunjukkan keganasan. Hati ini berdebar kencang…..dunia rasanya jadi gelap……seperti sudah ada vonis mati untuk bapak. Bapak yang selama ini sehat dan belum pernah masuk RS, sekali masuk harus menanggung penyakit yang begitu mematikan….

Aku sebagai anak pertama kemudian berembug dengan adik-adikku, Ibu tidak kami beritahu secara detail karena kami takut kesedihan Ibu terbaca oleh Bapak. Akhirnya kami memutuskan bapak memang harus menjalani kemoterapi…..Operasi berjalan baik, disisi usus yang dipotong tidak menunjukkan adanya sel kanker, tetapi karena patofisiologi menunjukkan keganasan maka harus dilakukan kemoterapi untuk mencegah pertumbuhan sel kanker lain yang mungkin tidak terlihat saat operasi…..

Bapak cukup tabah mendengar keputusan dan penjelasan yang kami berikan. Sebagai satu-satunya anak yang dekat (semua adikku tinggal di luar kota) maka akulah yang harus mendampingi bapak dan bersama-sama dengan ibu menjaga kondisi dan emosi bapak.

Akhirnya pada bulan desember Bapak masuk RS untuk menjalani kemoterapi putaran pertama. Aku dan Ibu mengantar Bapak, memastikan semua berjalan lancar, memastikan bapak merasa nyaman. Aku juga harus mengurus ASKES Bapak, disinilah aku mulai goyah….aku menangis tersedu-sedu saat berada di ruang ASKES sampai petugas bingung melihat aku menangis…..Setelah urusan selesai dan aku tenang aku kembali ke kamar. Karena kemoterapi masih keesokan harinya maka akupun pulang dan hanya Ibu yang akan menemani Bapak.

Ibu cukup setia, beliau tidak mau meninggalkan Bapak di RS sendirian, beliau bahkan tidak keluar dari kamar, kalau pengen makan maka beliau akan menunggu aku atau suamiku datang dan minta tolong dibelikan makan…..aku salut dengan ketabahan dan kesetiaan serta ketelatenan Ibu merawat Bapak.

Sementara dirumah aku merasa sangat sedih….aku merasa sendiri…..dan putus asa. Terus terang aku sangat takut mendengar kata kemoterapi….sepertinya itu seperti vonis mati bagi seseorang….aku takut…..aku belum siap…..Suamiku rupanya tahu perasaanku, dia tanya "kenapa?" dan kemudian pecahlah tangisku….Suamiku diam saja dan hanya menyediakan bahunya untuk bersandar……sampai akhirnya hatiku lega dan beban itu seperti terangkat….memang aku hanya butuh bahu untuk bersandar…..bukan nasehat.

Setelah lega…..tak berapa lama aku mendapat telepon dari Ibu, karena stress mikir Bapak…..Ibu diare jadi dia minta aku menemaninya menjaga Bapak di RS. Akhirnya suamiku yang menemani Ibu karena menurutnya…..kalau Bapak dan Ibu melihat wajahku yang habis menangis maka itu akan membebani pikiran mereka …terutama Bapak. Baru keesokan harinya aku ke RS menemani Ibu……

Itu semua sudah berlalu kini….Bapak sudah sehat kembali walaupun masih terlihat kurus….tapi kesan itu tak pernah hilang…..aku akan selalu punya bahu untuk aku bersandar saat sedih…..



No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment