May
21

Setiap jumat aku ada pelayanan di SD Budya Wacana Kranggan, yaitu pendampingan anak kelas 5, sekaligus untuk character building. Sungguh menarik mengetahui apa yang mereka pikirkan dan rasakan. Seringkali ada hal-hal yang cukup menggelitik dan patut direnungkan. Aku mendampingi 4 orang anak laki-laki yang cukup aktif dan ndak bisa diam, tapi ternyata mereka bisa stres juga.

“Bu Shania itu ikut les apa aja?”

“Shania sih cuman ikut les piano aja”

“Enak ya….aku tuh tiap hari les, matematika, bahasa inggris, bahasa mandarin, IPA sampai aku bosen….Kenapa ya Bu kok Mamaku nyuruh aku les macem-macem?”

“Mungkin supaya nilaimu bagus…..”

“Nilaiku emang gak bagus banget tapi ya gak jelek lho Bu….biasanya kalau ulangan aku dapat 70 ato 80….gak jelek to Bu?”

Itu sepenggal percakapanku dengan anak-anak yang aku bimbing. Mereka sebaya dengan anakku Shania yang juga kelas 5, memang itu salah satu motivasiku ikut membimbing mereka supaya aku tahu dunia mereka. Pada percakapan itu aku melihat kelelahan rasa tidak senang dan beban yang harus dipikul anak kelas 5 SD untuk memenuhi “ambisi” orangtua.

Kadang sebagai orangtua kita tidak sadar telah meletakkan beban yang berat pada anak kita. Secara tidak sadar kita meletakkan ambisi atau cita-cita yang tidak bisa kita capai ke pundak anak kita. Kalau nilai anak kita rata-rata 70….apakah anak kita bodoh? Kalau pertanyaan itu ditujukan padaku, aku akan menjawab TIDAK. Anak kita sudah mampu mengikuti pelajaran. Tapi kenapa sebagian dari orangtua masih saja menyuruh anaknya les ini dan itu kalau anak itu memang tidak bodoh.

Jawaban orangtua pada umumnya adalah supaya anakku lebih pintar lagi kalau bisa rangking 1. Dia pasti bangga kalau bisa menjadi rangking 1. Benarkah anak kita bangga? Apakah bukan kita sebagai orangtua yang bangga, dan untuk kebanggaan kita itu anak kita harus bekerja sangat keras bahkan mungkin sampai stres. Kalau sudah demikian benarkah kita mencintai anak kita? Bukankan itu membuktikan bahwa sebenarnya kita lebih mencintai diri kita dibandingkan anak kita? Kita tidak bisa atau belum bisa mencintai anak kita apa adanya…..

Lebih dari itu menurutku sebenarnya ada hal lain yang lebih penting. Menanamkan karakter yang baik menurutku lebih penting daripada sekedar nilai yang baik, rangking satu dsb. Aku selalu berusaha menanyakan pada diriku, yang kulakukan ini benar untuk anakku dan bukan untuk kepentinganku kan??? Bukan supaya aku bangga karena punya anak yang……..

Aku selalu mengatakan pada anakku, sekarang nilaimu jelek tidak apa-apa tapi lain kali kamu harus berusaha untuk memperbaiki. Tidak boleh mencontek, Mama lebih bangga nilaimu jelek tapi tidak mencontek daripada nilai bagus tapi mencontek. Aku berusaha mengajarkan pada anakku bagaimana caranya belajar, bangun dari kegagalan, berkompetisi secara sehat. Saat akan anakku ulangan dan tidak belajar aku hanya akan bilang “kalau nilaimu jelek jangan nangis lho….” Nah saat kemudian nilai anakku tidak seperti yang dia harapkan maka saatnya untuk menasehati dia pentingnya belajar. Cara itu lebih efektif dibandingkan ngomel-ngomel nyuruh anak belajar…..

Seperti apapun anak kita…..kita harus mencintainya apa adanya. Tugas kita sebagai orangtua adalah menunjukkan altenatif-alternatif beserta konsekuensinya masing-masing. Pilihan hidup tetap ada di tangan anak kita……



No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment