Aug
29

Ini cerita tentang anakku yang pertama. Dia ama temen2nya punya permainan yang menurutku sih lucu. Gini permainannya, dilakukan oleh 4 orang. Masing2 menyiapkan satu kertas, lalu ditulis nama, pekerjaan, bagian tubuh, terakhir nama lagi. Nama harus diisi nama temen satu kelas. Pekerjaan adalah pekerjaan yang dilakukan di rumah. Orang pertama menulis nama kemudian kertas dilipat diberikan pada orang kedua yang kemudian menulis pekerjaan dilipat lagi; orang ketiga menulis bagian tubuh, lipat lagi; dan orang terakhir menulis nama lagi. Setelah itu kertas dikembalikan lagi ke pemilik (orang pertama yang nulis). Nah setelah dibacakan maka akan menjadi kalimat yang lucu. Misalnya Si A menyapu hidung si B. Nah kelas anakku suka sekali memainkan permainan tersebut. Tetapi suatu hari kertas permainan anakku dan teman2nya ditemukan gurunya yang lalu mengganggap itu permainan jorok. Beliau menghukum murid2nya (4 orang termasuk anakku) dengan menulis surat permintaan maaf yang diketahui oleh orangtua masing2. Malam harinya anakku menangis dan minta maaf, katanya dia sudah melakukan kesalahan di sekolah. Dia sangat takut kami marahi atas perbuatan tersebut. Tetapi dia harus cerita karena hukuman gurunya tersebut. Akhirnya masih dengan menangis Shania menceritakan apa yang terjadi padaku….suamiku gak ikut mendengarkan supaya Shania mau ngomong terus-terang (suamiku lebih ditakuti anak-anak). Ok tanpa banyak bicara aku tandatangani surat yang dimaksud Shania. Sambil berencana esok harinya aku mau ketemu gurunya dan meminta penjelasan beliau sebelum menasehati Shania. Esoknya aku ketemu ama gurunya….yang pertama kali aku tanyakan adalah permainan jorok macam apa yang dilakukan anakku. (Dalam persepsiku jorok adalah berhubungan dengan seks). Guru anakku memperlihatkan kertas2 yang ditemukan, dan….aku bisa bernafas lega, karena jorok yang dia maksud bukan seperti dugaanku. Ketika guru anakku kutanya mana yang jorok, dia tidak bisa menjawab dan hanya mengatakan apa maksud kalimat aneh yang mereka buat…. Ya justru aneh itu mereka senang dan tertawa dan tidak ada maksud apa2 walaupun menggunakan nama teman. Dengan menggunakan nama teman mereka jadi bisa membayangkan dan akan terasa sangat lucu…..itu menurutku dan suamiku. Lepas dari  itu semua aku justru merasa senang, aku melihat anakku sebagai anak yang berani bertanggungjawab. Walaupun takut dimarahi dia tetep mau ngomong dengan jujur “kesalahan” yang dilakukannya disekolah. Resiko dimarahi dia jalani untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya dan melakukan “hukuman” yang diberikan gurunya. Dua jempol untuk Shania….



No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment