Membaca artikel Persiapan Pentas di blog Hompimpus ada pernyataan yang cukup menggelitik. Intinya adalah tentang kualitas pertemuan dengan anak, bukan hanya kualitas tapi kuantitas juga….Setuju sekali dengan pernyataan itu…Hal itu menjadi salah satu pergumulanku yang paling berat sebagai ibu bekerja. Pernah aku menangis krn gak bisa ndampingi anakku pas ngerayain ultahnya di sekolah….aku ngiri ama suamiku yg justru bisa nemenin anakku krn dia kerja di rumah. Dari waktu ke waktu aku merasa ada yang kurang dengan kebersamaanku. Ada perasaan gak enak tiap liat anakku. Tapi aku terus bekerja juga.
Aku selalu sharing dengan temen2 yang senasib. Aku dikuatkan juga oleh mereka. Aku belajar juga dari mereka. Katanya gak papa kita bekerja, anak2 jadi lebih mandiri, lebih dapat memutuskan apa2 utk diri mereka sendiri. Ok…aku terhibur tapi pergumulanku terus berjalan, aku tetep masih ngiri ama suamiku yg bisa lebih mendampingi mereka, termasuk untuk urusan sekolah. Kadang aku kasian juga ama suamiku, lha…temene jemput anakku ibu2 semua….
Sampai suatu ketika aku diskusi ama Romo (Aku kerja di istitusi Katholik, jadi banyak Romo di sana). Aku ngeluh ama dia tentang perasaanku. Tentang pergumulanku, tentang waktuku, tentang panggilanku mengajar, terutama tentang anakku. Walau ndak punya anak, nasehatnya bagus juga….Katanya “Mbak jangan mendidik anak dengan rasa bersalah”. Nggak baek ndidik anak dengan rasa bersalah. Yang penting kamu fokus, pas kerja kamu fokus kerja, pas di rumah kamu fokus jadi ibu dan istri. Jangan merasa bersalah tapi lakukan dengan sukacita dan full, kabeh mesti beres.
Setelah itu aku coba lakukan. Menghilangkan rasa bersalah melakukan semuanya dengan fokus dan sepenuh hati. Hasilnya…aku bisa dengan sukacita menjalani semua. Aku bisa mendidik anakku sebagaimana mestinya, tanpa kompensasi karena rasa bersalah. Banyak ibu yang memanjakan anaknya sebagai kompensasi atas rasa bersalahnya tidak bisa menunggui anaknya selalu (rupanya ini maksud Romo). Aku sekarang adalah full time mother sekaligus full time lecturer. Sekarang aku justru bisa bersyukur bekerja sebagai dosen, aku diberi laboratorium untuk mempelajari karakter manusia lewat mahasiswaku sekaligus cara menghadapinya. Jadi…suatu ketika anakku menghadapi masalah yg sama dengan mahasiswaku setidaknya aku pernah memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah kepada anakku….sekaligus contoh hasilnya bila perlu.
Jadi jangan takut untuk bekerja sekaligus jadi full time mother…
SELAMAT PASKAH
Well done, Mom. You ARE now the best mother in the world
Posted from Yogyakarta
Using
Trims, sharing yang bagus
pastinya bisa diaplikasikan juga oleh seorang ayah
Posted from Jakarta
Using
Yul, pepatah rumput tetangga keliatn lebih ijo emang bener. Syukurlah kalo sekarang udah ngeliat rumput di halaman sendiri juga ijo dan patut dirawat, ha…ha…ha…! Good done and keep tough.
Posted from Yogyakarta
Using