May
26

Pilihan untuk jadi dosen dulu didasarkan pada keleluasan waktu yang ada. Pertimbangan sederhana dengan menjadi dosen aku akan lebih bisa mbolos kalo anakku sakit atau ada keperluan yang mendadak, juga kerja yang tidak seharian. Di Sanata Dharma waktu itu seorang dosen wajib hadir jam 7.00 - 13.00 jadi seperti anak sekolah saja. Dan memang itu yang kemudian menjadi pilihan hidup, selain kesenangan berbagi ilmu.

Tetapi ternyata gak gampang jadi dosen. Dulu aku membayangkan jadi dosen itu kerjaannya ceramah di depan kelas, mahasiswa mendengarkan dan bertanya, kemudian memberikan ujian, yah….hanya itu yang aku bayangkan. Tetapi ternyata gak hanya itu. Kalau hanya sekedar mengajar memang gampang, tetapi kalau kemudian kita juga mendidik itu menjadi sulit.

Aku pernah punya pengalaman yang kurang menyenangkan. Waktu itu aku memberikan ujian dengan model take home exam, lalu saat koreksi ada dua jawaban yang alurnya sama persis, kalimat tidak sama persis tetapi urutan kalimat satu dengan yang lain idenya sama. Aku memberi nilai nol pada kedua lembar jawaban ini. Lalu mahasiswaku protes karena hal itu. Aku tunjukkan mengapa aku memberi nilai nol, karena 2 jawaban tersebut sama. Mereka protes dengan mengatakan bahwa mereka mengerjakan sendiri-sendiri dan tidak saling copy temannya, mereka mengatakan bahwa sumber pustaka mereka sama sehingga jawaban mereka sama. Waktu itu aku mengatakan sumber pustaka bisa sama tapi pasti alur pikir 2 orang gak akan sama, sehingga urutan kalimat ketika menjelaskan pasti tidak sama.

Sedihnya ketika aku mencoba untuk memberitahu kesalahan mereka dan mereka ngotot bahwa mereka tidak bersalah. Kalau aku sekedar mengajar mungkin aku tidak terlalu sedih, aku tinggal memberi keputusan tentang masalah itu dan selesai…..tapi apakah memang hanya seperti itu? Hati kecilku mengatakan tidak…..selain transfer ilmu aku juga ingin membimbing mereka untuk mempunyai “nilai-nilai kehidupan” yang baik sehingga dapat menjadi bekal untuk hidup mereka.

Kalau aku cuman ceramah di depan kelas itu gampang….sulitnya adalah bagaimana mengajak mahasiswa itu terlibat dalam kuliah itu. Misalnya mengajak mereka untuk berani bertanya….itu sudah sulit. Apalagi membuat suasana sehingga semua enjoy dengan kuliah itu dan tetap bisa menangkap isi kuliah tersebut…. Kita harus sungguh-sungguh kreatif dalam mengelola kelas.

Tetapi ternyata dinamika itulah yang menyenangkan, dan menghidupkan…..dan yang selalu akan mewarnai hidupku….



No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment