Setelah punya anak, karena harus memberi jarak minimal 2 tahun untuk hamil lagi maka aku harus mengikuti program KB. Metode yang kupilih adalah pil KB, pertama ikut bertahan 3 tahun lalu aku memutuskan untuk hamil lagi dan punya anak yang kedua. Sekali lagi kami memutuskan untuk program KB kembali dan lagi2 pil yang kupilih. KB menggunakan hormon ini kujalani selama hampir lima tahun. Usiaku sekarang sudah 36 tahun dan kami mulai berpikir kembali untuk memilih program KB yang tanpa hormon.
Ada beberapa pilihan dengan menggunakan pantang berkala, kondom atau steril. Pantang berkala dan kondom membuat kami merasa tidak nyaman dan tidak aman, pilihan terakhir adalah steril. Kami berdua berkonsultasi ke dokter kandungan untuk masalah tersebut. Karena Angela (anak bungsu kami) udah berusia 5 tahun sekarang sehingga dokter memberi lampu hijau bagi kami. Masalahnya sekarang adalah siapa yang akan steril. Dokter mengatakan kalau aku yang steril maka harus melalui operasi yang ditangani dokter kandungan karena aku pernah caesar 2 kali.
Setelah mendengar itu kami mempertimbangkan lagi keputusan untuk steril. Akan lebih ringan dan tidak beresiko bila suamiku yang menjalaninya (vasektomi). Aku masih tenang2 saja dan belum memikirkan lagi keinginan untuk steril sampai 3 bulan yang lalu suamiku minta diantar untuk menjalani vasektomi… Kaget juga waktu itu, dia menyatakan siap dan sudah tahu seluk beluk tentang vasektomi. Bahwa hal itu tidak berbahaya dan banyak mitos yang tidak benar mengenai hal tersebut. Ok…karena sudah mantap aku antar dia ke RS Bethesda dan proses itu hanya memerlukan waktu 15 menit…Proses penyembuhan luka hanya 3 hari, setelah itu dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya….lega rasanya he he he…..
Ada peristiwa lucu mengenai KB suamiku, setelah 2 bulan kami ke lab klinik untuk memeriksakan cairan semen suamiku apakah masih ada sperma disana. Kami diberi fasilitas kamar (seperti di hotel) dengan ada film blue juga….petugas dengan penuh simpati dan agak tegang menjelaskan kepada kami prosedur yang harus dilakukan dan berapa minimal cairan semen yang harus ditampung. Wah…kenapa harus gitu…karena harus diukur kuantitas juga apakah volume normal… Setelah kami jelaskan maksud kami, dan bahwa kami bukan bertujuan untuk tes kesuburan, wajah2 tegang nan simpati berubah menjadi rileks, o..oh mungkin kami dikira pasangan yang mengupayakan anak dan mereka bersimpati karena sampai seumur ini kami belum punya anak…..
Lepas dari itu semua aku bangga akan suamiku. Dia mau ber-KB menggantikan diriku. Merencanakan jumlah anak dan ber-KB bukan hanya tanggungjawab seorang istri, tapi menjadi tanggungjawab berdua. Temanku yang tahu keputusan itu selalu menduga bahwa suamiku mau ber-KB karena desakanku….dan aku selalu bilang bahwa suamiku adalah suami yang baik karena dia mau “berkorban” untukku. Banyak lelaki khawatir kalau vasektomi akan kehilangan kejantanannya dan suamiku membuktikan bahwa dia lebih jantan daripada semua lelaki yang takut kehilangan kejantanan karena vasektomi. Dan kami menjadi bertambah bahagia dengan keputusan tersebut…..
Wah wah wah…. asyiknya bisa bebas ML tanpa khawatir kegemukan…
*ML: Maem Lagi
Posted from Yogyakarta
Using
@kenapa_tanya
iya…itu salah satu alasan utama “kegemukan”
Posted from Yogyakarta
Using
[…] Tulisan terkait mengenai hal ini dari sudut pandang istri saya ada di sini. […]
Posted from
Using
empat jempol kaki buat bapak bu….
Posted from Yogyakarta
Using
wah .. to tweeeetttt
PAK yahya emang paling jantan deh . .
Posted from
Using
@ abdee
Yup, jadi semakin cinta aja nih ama suami..
Posted from Yogyakarta
Using
sudah ngecek juga kalau KB itu haram? untuk kepercayaan tertentu
Posted from Semarang
Using